RenunganAir Hidup . Menu. Home; Renungan; Cinta; Sahabat Seperjalanan; Renungan. Kehormatan. Posted by Alamta Singarimbun on July 16, 2017 July 16, 2017. Viewed : 985 views. RENUNGAN Mazmur 75:6-7 Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu SengsaraMembawa Nikmat, Hari ini permenungan kita bersumber pada bacaan-bacaan berikut ini: Bacaan pertama: Kejadian, 3:9-24 Bacaan Injil: Markus, 8:1-10 Ada sebuah ungkapan demikian: "Dengan lapar buat kenyang itu menyenangkan, dengan sakit membuat kesembuhan itu menyenangkandst". Ungkapan ini mau menggugah kita ini: bahwa setiap kesulitan, penderitaan dan persoalan . Hari Minggu Prapaskah III U Kel. 173-7; Mzm. 951-2,6-7,8-9; Rm. 51-2,5-8; Yoh. 45-42 panjang atau Yoh. 45-15,19b-26, 39a, 40-42 singkat. Air merupakan salah satu unsur kehidupan setiap makhluk yang hidup. Manusia, hewan dan tumbuhan membutuhkan air untuk kehidupannya. Secara khusus bagi manusia air tidak hanya untuk minum tetapi berguna untuk membersihkan. Bahkan setiap hari air tidak pernah lepas dari kehidupan manusia. Tentang pentingnya air sebagai sumber kehidupan sangat jelas dalam bacaan pertama hari ini. Kitab Keluaran mengisahkan tentang bangsa Israel yang bersungut-sungut kehausan. Mereka hampir mati karena kehabisan air di padang gurun. Namun setelah Allah memberi mereka air, bangsa itu menjadi pulih dan kuat kembali untuk melanjutkan perjalanan menuju tanah terjanji. Bacaan Injil hari ini mengisahkan perjumpaan dan percakapan seorang perempuan Samaria dengan Yesus di dekat sumur Yakub. Hal ini sebenarnya sebuah kejanggalan sebab sangat jelas bahwa keduanya berasal dari suku dan latar belakang yang berbeda. Yang satu orang Samaria, sedangkan yang lain adalah orang Yahudi. Orang Samaria dan orang Yahudi memiliki masa lalu yang kelam sehingga tidak gampang bagi keduanya berkomunikasi satu sama lain. Ini terlihat ketika si perempuan menolak memberi air kepada Yesus. Si perempuan menyadari dirinya tidak layak memberi air kepada Yesus. Apalagi jika diperhatikan, si perempuan datang menimba air pada siang hari. Situasi sosial pada zaman itu, orang yang datang menimba air siang hari adalah mereka yang memiliki moralitas kurang baik. Ketika Yesus membicarakan persoalan terdalam dirinya, perempuan itu terkesima karena mengetahui bahwa Yesus bukan orang Yahudi sembarangan. Percakapan mereka pun berkembang dari mata air sumur biasa menjadi sumber air kehidupan yang luar biasa. Bahkan dari perkataan-perkataan Yesus tersebut membangun kepercayaan si perempuan tentang sumber air yang membersihkan persoalan hidupnya serta menghantar sampai ke hidup yang kekal. Pada masa prapaskah ini kita diajak untuk melihat Allah sebagai sumber kehidupan sejati. Berefleksi dari bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini kita dituntun untuk menemukan bahwa sumber air kehidupan sejati terletak pada setiap perkataan Kristus, sehingga kehidupan kekal ditemukan dengan cara melakukan apa yang dikatakan Yesus dan dikehendakiNya. Seperti yang dikatakan Rasul Paulus kepada jemaat di Roma “oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia… dan menerima kemuliaan Allah”. Amin. Fr. Ferdy Poida “Tetapi barang siapa minum air yang Kuberikan ia tidak akan haus untuk selama-lamanya” Yoh. 414 Marilah Berdoa Ya Tuhan Yesus Kristus sabdaMu adalah sumber kehidupan kekal. Amin. Bacaan Yes. 504-7; Flp. 26-11; Mat. 26-27;66 atau 2711-54 Perarakan Mat. 211-11 Perayaan Pekan Suci dan khususnya Hari Minggu Palem tahun ini tentu berbeda atau lain dari biasanya. Kita sedang dalam ancaman Covid-19 atau Corona virus yang sedang melanda dunia, juga sedang mengancam setiap kita di sudut dunia manapun. Berbagai upaya Pemerintah dalam penanganan wabah ini, dan kita pun diminta untuk ikut terlibat dengan penuh kesadaran mengatasi dan bahkan memutuskan mata rantai penyebaran virus ini dengan melakukan tindakan nyata seperti, mengisolasi diri, menjauhkan diri dari kerumunan, untuk tidak ke mana-mana dan tinggal di rumah, disiplin diri jaga kesehatan dan kebersihan, mencuci tangan, mengambil jarak dengan orang yang ada di sekitar kita, meningkatkan daya tahan tubuh melalui makanan yang bergizi, dlsbgnya. Dan karena itu, demi keselamatan dan kesehatan banyak orang, tidak ada ibadah bersama, seperti misa, dll yang memungkinkan banyak orang berkumpul supaya dihindari. Umat dapat mengikuti perayaan ekarisiti secara live streeming melalui TV atah HP. Dengan penuh iman kita terus berdoa dan berpasrah kepada Tuhan agar wabah ini segera berlalu. Merayakan Hari Raya Minggu Palem kali ini tidak dengan sebuah pawai sambil bersorak hossana menyambut Yesus Sang Raja masuk kota Yeruslem, yang ditandai dengan pawai di luar atau di dalam Gereja. Tetapi, dalam keheningan dan kesunyian hati yang mendalam kita menyambut Yesus masuk Yerusalem rumah dan keluarga kita, dalam setiap hati yang penuh kerinduan dan penuh harapan ketika sedang dalam kecemasan di tengah mewabahnya virus corona yang membahayakan hidup setiap orang. Kali ini, tidak dengan daun palem di tangan sambil bersorak gembira akan datangnya Yesus Putera Daud. Kita tetap menyambut Yesus dengan iman yang teguh, Sang Raja yang selalu siap menderita bersama kita. Dia selalu menderita dan mengambil penderitaan kita agar kita diselamatkan. Memang kita sering menjadi ragu akan karya besar Allah yang selalu mengasihi kita, juga ketika kita sedang dilanda wabah corona virus ini. Wabah virus corona ini tidak pandang bulu, tidak pandang suku, bangsa, agama, kaya atau miskin. Maka peristiwa ini harusnya membuat kita sadar bahwa betapa berharganya hidup ini. Tidak hanya dengan daun palma di tangan, tetapi dengan hati yang penuh damai, hati yang penuh kasih, persaudaraan dan pengampunan, kita membiarkan diri kita, hidup kita, keluarga kita dipakai oleh Allah untuk kebaikan dan keselamatan banyak orang, juga menjaga diri kita dari wabah yang melanda dunia ini. Yesus selalu memerlukan kita agar kita mengalami keselamatan. Ia Raja yang rendah hati. Kebesarannya terletak pada cinta dan pengabdian. Ia tetap dan selalu mencintai kita, juga dalam situasi yang sedang kita hadapi saat ini, karena itu Ia masuk ke Yerusalem hati, hidup rumah dan keluarga kita saat ini. Ia juga mau mengalami apa yang sedang kita hadapi dan alami saat ini, bahkan melalui penderitaan, salib dan kematian-Nya kita pun diselamatkan. Ia adalah hamba yang menderita. Bacaan-bacaan yang kita renungkan menggambar betapa Yesus yang tak bersalah itu, dijatuhi hukuman yang tidak adil. Ia menanggungnya demi keselamatan, kebahagiaan dan tebusan bagi kita orang-orang yang berdosa. Hamba yang menderita tidak memperhitungkan keselamatan diri-Nya. Ia tidak dengan terpaksa, tetapi dengan sebuah kesadaran akan ketaatan-Nya pada kehendak Bapa, agar kita manusia yang berdosa ditebus, diselamatkan. Segala penderitaan kita diangkat-Nya. Kepasrahan kepada Allah dan cinta kepada manusia memberanikan Yesus untuk menghadapi jalan yang terpahit sekalipun; sebab Dia meyakini kepastian bahwa tugas perutusan-Nya tidak akan sia-sia. Pesan yang mau disampaikan adalah bahwa hidup di jaman sekarang ini mungkin sulit sekali menghargai sebuah pelayanan. Yesus sang pelayan, hamba yang setia daan menderita demi pelaksanaan pelayanan-Nya. Dan kita sebagaimana yang diharapkan oleh Rasul Paulus agar punya kerelaan dan leberanian untuk melayani Allah dan sesama. Kisah sengsara di hari minggu awal pekan suci ini mengajak kita untuk menyadari bahwa Yesus memerlukan teman berjaga. Berjaga dalam doa, agar kita tidak jatuh dalam dosa. Yesus membutuhkan orang yang diajak kerjasama, membantu dalam berbagai tantangan dan kesulitan seperti saat ini, agar semua orang diselamatkan. Kita tidak bersikap acuh dan masa bodoh, tetapi punya kepedulian atas kehidupan, kesehatan dan keselamatan orang lain. Semoga kita pun berani menyerahkan diri bersama Yesus dalam kesepian dan mau setia kepada kehendak Bapa-Nya. Sebagaimana Yesus, Ia menyatakan kesetiaan-Nya yang tuntas pada salib. Paus Fransiskus mengingatkan kita bahwa badai virus corona telah membuka kelemahan kita. Dia membuka kebiasaan dan kelemahan kita. Badai membuka hati kita untuk menyeimbangkan hidup kita dengan hati kita. Dengan badai, terungkaplah tipuan-tipuan kita yang ditutupi dengan egoisme kita. Dalam masa PraPaskah ini, kita diingatkan untuk kembali dan percaya kepada Tuhan, Kini adalah saat melihat dan memperhatikan satu sama lain. Kita mengundang Yesus ke dalam perahu hidup kita karena Dia-lah yang memenangkan semuanya. Karena Tuhan membuat semuanya menjadi baik. Karena di dalam Tuhan, semua hidup. Tuhan menguatkan iman kita menuju iman Paskah. Kita tahu, melalui salib-Nya kita diselamatkan. Kita memiliki harapan bahwa melalui salib-Nya, kita dirangkul agar kita semua dirangkul oleh kemaharahiman-Nya. Salib bukan karena kesalahan-Nya, tetapi Salib adalah sebuah perjuangan menegakkan Kerajaan Allah. Salib adalah jalan keselamatan, jalan mengenal misteri kasih Allah yang tak pernah berhenti walaupun ada hambatan, tantangan, kesulitan. Salib dan jalan salib adalah jalan keselamatan bagi Yesus, bagi para murid-Nya, bagi kita. Semoga dalam keheningan ketika saat ini kita berdiam diri di rumah, dan dengan diri kita sendiri, kita terus menyerahkan diri dalam kepercayaan karena jalan itulah yang dicontohkan oleh Yesus kepada semua yang hendak mengikuti-Nya. Yang bertahan sampai akhir akan mendapat mahkota abadi. Tuhan memberkati ***** Ditulis oleh Rm. Fransiskus Emanuel da Santo, Pr; Sekretaris Komisi Kateketik KWI Wahyu 61-8 Apakah Empat Penunggang Kuda dalam kitab Wahyu sudah datang? Lalu aku melihat Anak Domba itu membuka salah satu dari ketujuh meterai itu, dan kudengar salah satu dari keempat makhluk itu berkata dengan suara yang menggelegar, "Mari!" Jadi aku menengadah dan melihat seekor kuda putih, dan penunggangnya memegang sebuah busur panah. Dan dia diberikan mahkota, dan dia pergi untuk mengalahkan dan menaklukkan. Dan saat Anak Domba itu membuka meterai yang kedua, kudengar makhluk yang kedua itu berkata, "Mari!" Kemudian kuda lain keluar. Warnanya merah terang, dan penunggangnya diberi kuasa untuk menyingkirkan kedamaian dari bumi dan membuat manusia saling membunuh. Dan dia diberikan sebilah pedang yang besar. Dan saat Anak Domba itu membuka meterai yang ketiga, kudengar makhluk yang ketiga itu berkata, "Mari!" Kemudian aku menengadah dan melihat seekor kuda hitam, dan penunggangnya memegang sebuah timbangan di tangannya. Dan kudengar suara yang kedengarannya seperti suara yang berasal antara keempat makhluk itu, berkata, "Satu liter gandum seharga satu dinar, dan tiga liter jelai seharga satu dinar, dan jangan merusakkan minyak dan anggur itu". Dan saat Dia membuka meterai yang keempat, kudengar suara makhluk yang keempat itu berkata, Mari dan lihatlah. Dan aku menengadah, dan melihat seekor kuda pucat dan nama yang menungganginya adalah Maut, dan Neraka mengikutinya. Dan kepada mereka diberikan kuasa atas seperempat dari bumi, untuk membunuh dengan pedang, dan dengan kelaparan, dan dengan kematian, dan dengan binatang-binatang buas di bumi. Wahyu 61-8 Maaf, halaman yang Anda cari di blog ini tidak ada. Maaf, halaman yang Anda cari di blog ini tidak ada. Langganan Postingan Atom

renungan air hidup minggu sengsara